PERINGATAN HARI BUKU NASIONAL, JEMBATAN KESENJANGAN DIGITAL MELALUI LITERASI (Murnih, S.Pd., M. Pd)

Salah satu tujuan peringatan Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei  adalah membangkitkan kesadaran akan pentingnya membaca yang menjadi kunci pengetahuan, ide, imajinasi, dan pembelajaran sepanjang hayat. Dengan peringatan hari buku Nasional diharapkan terciptanya budaya literasi yang lebih kokoh di tengah masyarakat, terkhusus kepada para pelajar. Di hari buku Nasional ini, beberapa kegiatan melibatkan institusi pendidikan ataupun komunitas untuk menanamkan kecintaan pada buku sedini mungkin.

Peringatan Hari Buku Nasional juga menjadi bentuk penghormatan bagi para penulis atas karya mereka yang telah memperkaya peradaban manusia lewat tulisan, baik fiksi,nonfiksi, hingga buku anak. Tanpa penulis, dunia akan miskin imajinasi. Dunia akan kehilangan identitasnya karena kehilangan suara-suara kebenaran. Banyak perubahan besar lahir dari sebuah tulisan. Tanpa penulis, empati sulit tumbuh, dunia jadi lebing kering secara emosional.

Momen Hari Buku Nasioanal juga dimanfaatkan berbagai pihak untuk menyumbangkan buku, mengadakan bazar murah, atau membuka akses bahan bacaan secara meluas. Akan tetapi, di era digital saat ini, banyak tantangan yang dihadapi, baik oleh individu maupun masyarakat secara umum. Beberapa tantangan yang dihadapi saat ini antara lain:

Minat Baca Menurun. Di era digital saat ini, banyak murid lebih tertarik pada konten visual yang lebih instan di media sosial dibandingkan membaca buku atau tulisan-tulisan panjang. Kemudahan mengakses video singkat, meme, dan berbagai bentuk hiburan digital lainnya membuat aktivitas membaca menjadi kurang diminati, terutama di kalangan generasi muda.

Information overload. Saat ini, terlalu banyak informasi yang beredar di inernet, sehingga murid merasa sulit memilah mana yang benar, relevan, dan bermanfaat. Setiap hari kita dibombardir dengan berbagai jenis informasi, baik yang datang dari media sosial, berita online, hingga forum diskusi. Banyak dari informasi ini disajikan dengan cara yang sangat menarik dan mudah dicerna, namun tidak semuanya akurat atau memiliki sumber yang jelas. Hal ini membuat kita rentan terhadap konsumsi informasi yang salah atau tidak sesuai dengan kebutuhan kita.

Privasi dan keamanan data. Banyak pengguna internet belum menyadari pentingnya menjaga data pribadi, sehingga rentan terhadap pencurian data dan penyalahgunaan informasi. Banyak orang masih tidak cukup waspada terhadap potensi bahaya yang bisa timbul dari kebocoran data pribadi. Data tersebut bisa jatuh ke tangan yang salah, baik itu untuk tujuan pemasaran yang agresif, penipuan (phishing), hingga pencurian identitas yang bisa merugikan secara finansial maupun reputasi.

Kesenjangan digital (digital divide). Meskipun teknologi dan peradaban semakin berkembang, akan tetapi tidak semua murid memiliki akses yang sama ke teknologi dan internet. Hal ini menjadi penyebab timbulnya ketimpangan dalam hal pendidikan dan informasi. Di sisi lain, banyak pengguna internet yang belum memahami cara menggunakan teknologi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.

Kesenjangan digital merujuk pada perbedaan akses, keterampilan,dan pemanfaatan teknologi informasi antarindividu atau kelompok. Tantangan tersebut memiliki dampak besar, terutama di bidang pendidkan.

Di banyak daerah, terutama di pedesaan atau di daerah kepulauan, masih banyak murid dan masyarakat yang belum memiliki akses internet yang stabil atau tidak memiliki perangkat untuk mengakses internet, baik laptop maupun smartphone.

Ketimpangan lainnya adalah ketimpangan literasi digital. Orang-orang yang tidak terbiasa dengan teknologi sering kesulitan menggunakan aplikasi pembelajaran, mencari informasi, atau mengikuti perkembangan zaman. Hal ini juga berdampak pada kualitas pendidikan. Murid yang tidak mengakses sumber belajar digital akan tertinggal jauh dibandingkan siswa yang punya akses dan dukungan penuh terhadap akses digital.

Mereka yang tertinggal secara digital juga akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan diri. Mereka tentu tidak bisa mengikuti pelatihan daring, atau mengekspresikan diri melalui platform digital.

Bagaimana Menjembatani?

Beberapa pendekatan yang bisa dilakukan untuk menjembatani kesenjangan digital melalui literasi, antara lain dengan literasi digital. Pada kegiatan literasi, bukan hanya kegiatan membaca dan menulis yang diutamakan, akan tetapi memasukkan literasi digital sebagai upaya edukasi cara mencari informasi yang benar, menggunakan aplikasi edukatif, dan berinteraksi secara sehat di dunia maya kepada para pelajar.

Gerakan Literasi inklusif dan merakyat juga dapat menjadi penghubung kesenjangan digital ini. Di tengah gempuran digitalisasi, sangat dibutuhkan kegiatan yang menjangkau masyarakat yang kekurangan akses teknologi digital. Pola pendekatan kolaboratif dengan tokoh masyarakat, guru lokal, atau pemuda setempat dapat digunakan untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Di tengah derasnya arus informasi digital, peringatan Hari Buku Nasional menjadi penegas bahwa membaca dan menulis adalah fondasi penting dalam membangun pola pikir kritis dan bersikap bijak bagi para murid. Peringatan ini menjadi momentum untuk menggaungkan seruan untuk menghapus kesenjangan akses terhadap buku, agar bahan bacaan berkualitas dapat menjangkau daerah-daerah hingga ke polosok dan kelompok yang kurang terlayani. Tak kalah penting, Hari Buku Nasional memberi ruang dan semangat bagi lahirnya buku-buku berkualitas dari penulis-penulis muda yang siap menyuarakan ide, gagasan, dan harapan melalui tulisan agar kesenjangan digital tidak lagi menjadi jurang pemisah di tengah masyarakat saat ini. Dengan begitu, peringatan Hari Buku Nasional tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi momentum nyata untuk membangun masyarakat yang literat, cerdas, dan berdaya saing di tengah arus informasi yang semakin deras.

MURNIH AISYAH. Guru Fisika di SMA Negeri 17 Makassar dan melaksanakan amanah sebagai Kepala Perpustakaan SMA Negeri 17 Makassar. Pendiri teras Baca Jendela Teras Semesta. Aktif di Forum Lingkar Pena Sulawesi selatan. Koordinator divisi Riset dan Penelitian di Himpunan Pegiat Literasi dan Budaya Sulselbar. Menjabat Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Kota Makassar tahun 2019-2022. Dewan Pakar Kampus Lorong, juga menjadi Dewan Pembina di Forum TBM Sul-Sel. Buku perdana yang ditulisnya adalah novel berjudul Pulang. Buku lainnya adalah buku Guru Perindu Langit, dan buku cerita anak dwibahasa, Novel Perempuan Surga, dan beberapa buku antologi lainnya.

Penulis dapat dihubungi melalui kontak

WA: 08114193082

IG @murnih_aisyah,

FB : Murnih Aisyah,

Tiktok : Murnihaisyah

Surel : murnih17@gmail.com

 

Related Posts

© 2025 by Laboratorium TIK & SCIFOR Associates (Rozzie, et al) with 💌